Dengung

 "....Rasa kehilangan hanya akan ada,
Jika kau pernah merasa memilikinya..."

***

Sayup-sayup lantunan memiliki kehilangan masih terdengar dari kejauhan. Nampaknya hujan semakin menambah kekuatan syahdu dari lagu yang terdengar sendu. 

Ku sesap kopi keduaku siang itu,
sembari ku buka lembar ke duapuluh delapan sebuah buku di hadapanku.

Beberapa detik berlalu,
dan aku hanya memainkan pena di tangan,
lembaran kosong ini terasa seperti menelanjangi isi pikiran.

Terlalu banyak yang ingin ku tumpahkan pada lembar ini,
terlalu banyak benang kusut yang harus diurai,
pada sebuah cerita yang telah diakhiri bahkan sebelum dimulai.

Ah, lagi-lagi jariku tanpa sadar merobek ujung kertas lagi.

Kenapa aku begitu kehilangan arah saat ini?
Aku bahkan tak bisa lagi memanggil diriku di dalam sana untuk sekedar memeluknya,
Dia membutuhkanku dalam sadar yang nyata.

Apakah ia juga ingin meninggalkanku sama seperti lainnya?
Tapi.. ia hidup bersamaku, apa mungkin ia tega?

Jangan bodoh, kau hanya hidup dalam ilusi yang kau ciptakan sendiri.
Kau ingin selalu bisa mengasihi oranglain,
Kau berjalan ke sana kemari, membagikan semua yang kau miliki,
tapi kau lupa bahwa di dalam sana ada jiwa yang butuh kau kasihi.

Tiba-tiba saja kertas di tanganku sudah berubah menjadi burung origami.
Kupandangi ia sekali lagi, sebelum akhirnya ku letakkan kembali di samping cangkirku yang mulai menguap bersama dengan munculnya embun di jendela di hadapanku.

dan lagi, tanpa sadar tanganku kembali menyobek satu lembar tak bersalah dari lembar di depanku.
Kau tau apa yang salah darimu? kau terlalu berharap pada kehidupan. Kau menyadari bahwa ia takkan pernah bisa menumbuhkan harapan, tapi kau, malah menanamnya lebih dalam. Kau bahkan membagikan pada mereka yang kau anggap bisa membersamaimu untuk menyimpan harapan itu, pada mereka yang butuh keajaiban harapan. Tidak kah kau tau bahwa itulah yang perlahan membunuhmu?

Lama aku terpaku pada lembaran yang mulai kusut dalam genggamanku. Tidak seharusnya ia mengatakan itu, batinku. Tidak bisakah ia menyimpannya saja untuk kita berdua?

Mataku mulai basah, mengikuti derasnya tetesan air di luar sana. 

Di kejauhan, ku lihat anak-anak mulai bermain di jalanan dan menikmati hujan sore ini. 

Apa? Kau ingin mengingat luka soal anak-anak lagi? apa belum cukup kau menyakiti dirimu sendiri yang belum mampu melepasnya karena ia berbeda prinsip denganmu, sementara sekarang semua kawanmu sudah menemukan pasangannya yang membuat mereka merasa bahagia?

Ku pastikan tak ada yang melihatku menangis mendengar dengungan itu,
ku biarkan jeritanku tertelan dan meledakkan ingatan laluku.

(TTE, 290121).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh