Recharged
Kemarin, saat menjalani hari yang ku kira sudah berakhir, rasanya benar-benar sinting.
Otak dan hati sibuk berdebat dan saling menyalahkan,
Mereka tak ingat di dalam sana ada jiwaku yang menunggu untuk diselamatkan.
***
I woke up this morning with the same old empty feeling. But it does feel heavier, when you have burden inside. I should've be strong, cz this isn't the first time I broke my heart.
Actually, it's not broken. Maybe this time my heart just have a cold.
I just need to recover.
***
Semakin dipikirkan semakin berat. Tapi tak dipikirkan pun ia sudah mencekal pikiran.
Tak ada lagi yang bisa ku lakukan selain menceritakan berulang.
Lagi, ku harus merasakan kekosongan karena sesuatu yg ku sayangi diambil orang. wkwk.
Lucunya, meski sudah berkali-kali kualami, tetap saja rasanya sakit seperti ini.
Bukan kecemburuan bahwa aku ingin merasakannya juga,
melainkan kesedihan, what's mine were taken by stranger.
Kayak anak kecil direbut gitu aja mainan kesukaannya.
Kayak anak kecil yang ditinggalkan gitu aja tanpa dipamiti.
Kecolongan.
***
Tapi ketika direnungkan lagi, nampaknya benar, aku hanya kesepian dan merasa mati karena tak ada lagi yang bisa ku bergunakan kepada orang terdekatku.
Teorinya,
Ketika ada orang datang, secara otomatis keberadaan mereka akan sangat berpengaruh dalam hidupku. Mereka akan menjadi bagian hari-hariku tanpa kecuali, dan akan terbentuk garis kasat mata yang menghubungkan kami, yang mengikat kami di dalam suatu lingkaran.
Dan seperti jalannya tali pusat bayi,
aku dengan senang hati selalu mecurahkan segalanya 100% pada mereka yang menghuni. Memberikan segalanya yang ku bisa untuk menjaga mereka, untuk membuat mereka nyaman, untuk membuat mereka merasa dicintai, sampai aku lupa kalau mereka hanya tinggal sementara.
Ketika mereka satu per satu mulai pergi,
Aku menderita sendiri.
Komentar
Posting Komentar