Ke Arah Utara
Perjalanan kembali ke tanah rantau di utara hari ini terasa agak sedikit berbeda, karena saya mendapat kesempatan untuk berbincang bersama seorang pensiunan salah satu lembaga penelitian di Indonesia dan sekarang menjadi Widyaswara bersama suaminya, mengisi waktu luang masa tua katanya.
Sepanjang 2 jam perjalanan, saya mendapatkan banyak ilmu baru, tentang hal-hal yg selama ini berkutat di kepala, tentang antariksa, satelit, cuaca, amazing pokoknya!
Lalu tibalah saat si ibu bercerita tentang kisah hidupnya. Setelah lulus SMA, beliau mendapatkan kesempatan emas untuk mengikuti perkuliahan di luar negeri, yg merupakan program dari Presiden Indonesia saat itu, bapak B.J. Habibie yg sangat ingin Indonesia 'berlari' dalam hal teknologi di awal masa jabatannya. Sebuah cita-cita yang keren banget saya lihat, ibunya ingin bisa menjelajah Jepang, sama seperti saya yg pengen banget bisa menjelajah alam Indonesia timur. Rasa bahagianya tidak terukur, ketika pertama kali menginjakkan kaki di sana. Merinding.
Si ibu pun bercerita bagaimana beliau melakukan penelitian di bidang IT dan membuat perubahan di bidangnya. Lucunya, si ibu iri pada cerita saya krn beliau ingin sekali bisa menikmati alam Indonesia Timur, kebalikan saya yg ingin ganti main² ke luar negeri! Haha.
Pembahasan pun beralih ke pekerjaan saya. Sedikit curhat sy selipkan di antaranya, tentang bagaimana sy belum merasa betah di Semarang sampai detik ini, juga tentang bagaimana kesan Semarang di mata sy yang ternyata juga si ibu rasakan. Beliau mengatakan, Semarang tidak terasa seperti kota lain yg hidup dan punya sesuatu yg bisa memanggil untuk kembali. Dan betul. Jika dibanding kota lainnya, Semarang seperti tempat transit saja, tidak nyaman untuk sekedar memikirkan untuk hidup di sana.
Setelah si ibu turun bersama suaminya, 2 jam selanjutnya tiba-tiba terlintas bebagai kemungkinan di otak ini, bagaimana kalau selama ini sy sakit karena sy kurang ikhlas menerima, krn sy terlalu memaksakan diri untuk menerima Semarang sebagai 'rumah'?
Bagaimana kalau ternyata tidak apa-apa tidak menganggap Semarang sbg 'rumah'?
Bagaimana kalau ternyata tidak semua tempat bisa saya jadikan 'rumah'?
Bagaimana kalau ternyata tidak apa-apa jika saya tidak betah dan hanya ingin menganggap Semarang sbg tempat transit?
Bagaimana kalau ternyata saya bebas menentukan dimana saya ingin menikmati hidup bebas, menemukan partner, tanpa perlu ketakutan memikirkan bayangan untuk 'harus hidup di Semarang'?
Boleh banget kok kalau kamu pengen beli rumah di Purbalingga buat kamu tinggal selama pulang, kamu bangun rumahmu sendiri buat jadi 'rumah' ternyaman.
Siapa sih yg memandatkan kamu buat menjadikan Semarang sbg 'rumah'?
Gak ada.
Siapa sih yg meminta kamu buat menerima Semarang sbg tempat yg nyaman?
Gak ada.
Yang ada,
Kamu keliru menganggap PENDAPAT oranglain sebagai sesuatu yg harus kamu jalani. Kamu menerima begitu saja kalimat dari mereka yg selama ini mungkin nyaman² saja dgn Semarang, tapi buatmu malah jadi beban karena ya emang gak cocok aja sama kamu. And that's totally fine loh.
Ya,
Sepertinya tidak apa-apa.
Lakukan saja apa kewajiban yg harus kamu lakukan dalam pekerjaan.
Bekerjalah di Semarang, lalu pulanglah kemanapun, rumah yg ingin kamu tuju.
Legakanlah pikiranmu,
Uraikanlah, karena ini sudah di luar kemampuanmu.
It's okay not to be okay.
It's okay to be different.
It's okay to choose your own way, babe!
Love you!❤️
Komentar
Posting Komentar